Laman

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label pitutur luhur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pitutur luhur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

Panglipur

HASTABRATA -
Panglipur dan Pitutur

Hastabrata merupakan
pitutur yang diberikan
Rama kepada Wibisana
dan dalam kisah
mahabarata, Hastabrata
disampaikan pada
pelantikan Prabu Sri
Batara Kresno menjadi
raja. Sri Kresna adalah
juga sebagai penasehat
pandawa.
Dalam versi Jawa,
Hastabrata dapat
diuraikan sebagai
berikut. Hasta berarti
delapan sedangkan Brata
berarti laku, watak atau
sifat utama yang diambil
dari sifat alam. Dengan
begitu arti Hastabrata
adalah delapan laku,
watak atau sifat utama
yang harus dipegang
teguh dan dilaksanakan
oleh seorang pemimpin
atau siapa saja yang
menjadi pemimpin
sebuah institusi/
organisasi/rumah tangga,
bahkansebagai
pemimpin bagi dirinya
sendiri.
Delapan watak utama
tersebut diambil dari
sifat matahari, bulan,
bintang, awan/mendung,
bumi, lautan, api dan
angin.
Pertama sifat Matahari.
Terang benderang
memancarkan sinarnya
dan energi tiada henti.
Segalanya diterangi,
diberinya sinar cahaya
tanpa pandang bulu.
Sebagaimana matahari,
seorang pemimpin harus
mampu memberikan
pencerahan kepada
rakyat, berhati-hati
dalam bertindak seperti
jalannya matahari yang
tidak tergesa-gesa
namun pasti dalam
memberikan sinar
cahayanya kepada semua
makhluktanpa pilih
kasih.
Kedua sifat Bulan.
Sebagai planet pengiring
matahari bulan bersinar
dikala gelap malam tiba,
memberikan suasana
tenteram dan teduh.
Sebagaimana bulan,
seorang pemimpin
hendaknya rendah hati,
berbudi luhur serta
menebarkan suasana
tentram kepada rakyat.
Ketiga sifat Bintang. Nun
jauh menghiasi langit
dimalam hari, menjadi
penentu arah dalam ilmu
perbintangan. Seorang
pemimpin harus bisa
menjadi pengarah dan
panutan dari segi
kesusilaan, budaya dan
tingkah laku serta
mempunyai konsep
berpikir yang jelas.
Bercita-cita tinggi
mencapai kemajuan
bangsa, teguh, tidak
mudah terombang-
ambing, bertanggung
jawab dan dapat
dipercaya.
Keempat sifat Awan atau
Mendung. Seakan-akan
menakutkan tetapi kalau
sudah berubah menjadi
hujan merupakan berkah
serta sumber
penghidupan bagi semua
makhluk hidup. Seorang
pemimpin harus
berwibawa dan
“menakutkan” bagi siapa
saja yang berbuat salah
dan melanggar
peraturan. Namun di
samping itu selalu
berusaha memberikan
kesejahteraan.
Kelima sifat Bumi.
Sentosa, suci, pemurah
memberikan segala
kebutuhan yang
diperlukan makhluk yang
hidup diatasnya. Menjadi
tumpuan bagi hidup dan
pertumbuhan benih dari
seluruh makhluk hidup.
Sebagaimana bumi,
seorang pemimpin harus
bersifat sentosa, suci
hati, pemurah serta
selalu berusaha
memperjuangkan
kehidupanrakyat yang
tergambar dalam tutur
kata, tindakan serta
tingkah laku sehari-hari.
Keenam sifat Lautan.
Luas, tidak pernah
menolak apapun yang
datang memasukinya,
menerima dan menjadi
wadah apa saja.
Sebagaimana lautan
seorang pemimpin
hendaknya luas hati dan
kesabarannya. Tidak
mudah tersinggung bila
dikritik, tidak terlena
oleh sanjungan dan
mampu menampung
segala aspirasi rakyat
dari golongan maupun
suku mana pun serta
bersifat pemaaf.
Ketujuh sifat Api.
Bersifat panas membara,
kalau disulut akan
berkobar dan membakar
apa saja tanpa pandang
bulu, tetapi juga sangat
diperlukan dalam
kehidupan. Sebagaimana
sifat api, seorang
pemimpin harus berani
menindak siapapun yang
bersalah tanpa pilih
kasih dengan berpijak
kepada kebenaran dan
keadilan .
Kedelapan sifat Angin.
Meskipun tidak tampak
tetapi dapat dirasakan
berhembus tanpa henti,
merata ke seluruh
penjuru dan tempat.
Itu saja yang bisa saya
sampaikan, TIADA
GADING YANG TAK
RETAK
Wallahualam

Renungan

Yen pinuju wayah wengi
langite terang banjur
tumengaa ing tawang.
Kita bakal nyipati
saperangane gelaring
alam.
Abyoring langit kang
sumilak sinebaran
lintang-lintang pating
krelip.
Gedhe cilik kaya wis
sengadi tinata
panggonane.
Angin sumilir ngobahake
kekayonan lan
gegodhongan kang
ngandhut aruming
gandane kekembangan.
Sing kaya mangkono
kuwi sayekti bisa
nuwuhake rasa pangrasa
tentrem ing ati kita.
Nanging luwih saka iku,
apa sing kaya mangkono
mau ora ngosikake kita
tumrap Kaluhuraning
Gusti Kang Maha Agung
kang wus mranata
sakabehing mau??
Terjemahan bebasnya
kira-kira seperti ini :
Ketika malam telah
datang kemudian kita
melihat ka angkasa yang
terang (terang yg
dimaksud disini adalah
terang karena bintang).
Kita akan melihat
sepenggal dari
penampakan alam.
Gemerlap langit yang
diterangi oleh banyaknya
bintang bintang yang
berkerlip. (Bintang)
besar (dan) (bintang)
kecil seperti sudah
tertata rapi
ditempatnya. Angin yg
berhembus sepoi-sepoi
menggerakkan
pepohonan dan
dedaunan yang
membawa aroma wangi
berbagai macam bunga.
Hal seperti itulah
sebenarnya yang bisa
menimbulkan sebuah
rasa perasaan yang
tentram di dalam bathin
kita. Bukan hanya itu,
apakah hal tersebut
masih belum juga mampu
untuk membuat kita
sadar akan Kemuliaan
Tuhan Yang Maha Agung
yang sudah menata
segalanya??
hmmmmmmmmmmmm........
mari kita coba
renungkan.

Senin, 01 Agustus 2011

Pitutur Luhur
Supaya kehidupan
berjalan baik, para
pinisepuh telah
mewariskan pitutur luhur
– petuah luhur supaya
kita semua tetap
berpegang kepada
paugeraning urip – tata
cara kehidupan luhur,
yang secara tradisi selalu
dilaksanakan dan
dihormati seluruh warga
dengan sadar dan
mantap
Petuah dan ajaran
warisan leluhur Jawa/
Nusantara sengaja
disebar kemana-mana,
tidak berupa sebuah
buku tuntunan. Ini
dimaksudkan oleh para
pinisepuh, supaya anak
cucu termasuk penulis
dan anda semua
mengerti, bahwa belajar
dan mencari ilmu itu
perlu usaha yang tekun.
Tidak jemu-jemunya para
pinisepuh menebarkan
ajaran luhur lewat sloka-
sloka, tembang-tembang,
babad, cerita tutur,
peribahasa dll, supaya
anak keturunan
dimanapun dan
kapanpun selalu ingat
untuk menjaga perilaku
yang baik dan patut,
selalu percaya diri,
berpegang teguh kepada
Budi Pekerti, tatakrama
dan tata susila, tidak
sombong, sopan dan
bersikap rendah hati –
andap asor.
Piweling/ ajaran yang
utama adalah : Tansah
eling marang Pangeran –
Selalu ingat kepada
Tuhan, sebab Gusti ora
sare – karena Tuhan
tidak tidur, artinya :
mengetahui segalanya.
Petuah lewat peribahasa
Dalam pergaulan sehari-
hari, beberapa
peribahasa dibawah ini,
kiranya masih relevan
dan bermanfaat dan bila
diperhatikan dan
dilaksanakan yang baik
dan dihindari yang jelek,
akan membuat suasana
kehidupan dimasyarakat
enak, rukun dan
menyenangkan.
Zaman Edan
Salah satu pitutur klasik
yang kondang adalah
Zaman Edan , karya
agung pujangga
Ranggawarsita, sebagai
berikut :
Amenangi zaman edan
Mengalami zaman edan/
gila
Ewuh aya ing pambudi
Serba sulit menentukan
perilaku
Melu edan nora tahan
Mau ikutan berbuat gila,
tak sampai hati
Yen tan melu anglakoni
Kalau tak ikutan
Boya keduman milik
Tidak kebagian rejeki
( uang, harta)
Kaliren wekasanipun
Jadinya kelaparan
Dilalah karsa Allah
Sudah menjadi kehendak
Tuhan
Begja-begajne kang lali,
luwih begja kang eling
lan waspada
Seberapapun untung
yang didapat oleh orang
yang lagi lupa, masih
lebih bahagia orang yang
sadar dan waspada.
Melecehkan kebenaran
Ada zaman yang
menyedihkan bagi orang
baik-baik, ketika
kebenaran dan orang
baik-baik dilecehkan,
seperti pada ungkapan
ini :
Wong bener thenger-
thenger,
Wong salah bungah-
bungah,
Wong apik ditampik-
tampik.
Artinya :
Orang benar jadi susah,
Orang salah malahan
senang hidupnya,
Orang baik tidak
diterima bahkan diusir.
Dhandhang diunekake
kuntul, kuntul diunekake
dhandhang.
Yang jahat dibilang baik,
yang baik dikatakan
jahat.
Ini merupakan gambaran
keadaan yang rancu,
dimana nilai-nilai moral
kejangkitan penyakit.
Sindiran kepada orang
tak bermutu
Ada saja orang tak
bermutu dizaman
apapun, orang-orang
yang berlagak sok pintar.
Contohnya :
Kakehan gludhug kurang
udan.
Kebanyakan guntur,
hujannya sedikit. Artinya
kebanyakan ngomong,
yang benar sedikit.
Kegedhen endhas kurang
uteg.
Kebesaran kepala,
otaknya kurang.
Alihan gung
Lagaknya kaya orang
gedean, bodoh merasa
pintar.
Merak kecancang
Bergaya anggun bak
burung merak.
Malang kadhak
Berjalan gaya kesana
kemari seperti itik.
Ini adalah gambaran
orang yang mendem
drajad, pangkat lan
semat.
Orang yang mabuk
kekuasaan, kedudukan,
pangkat dan kekayaan
materi.
Murang kara adalah
orang yang berperilaku
tidak baik seperti
koruptor, manipulator,
pemeras,yang menyalah
gunakan kedudukan
untuk mencari uang yang
tidak halal.
Micakake wong melek
Orang yang tidak malu
atas perbuatannya yang
tidak baik, dia anggap
semua orang itu buta,
tidak tahu akan
perbuatannya yang
tercela seperti
menggerogoti uang
negara, memeras dsb.
Mungal mungil adalah
orang yang tak punya
pendirian.
Ngalem legine gulo
Memuji manisnya gula.
Dengan menyanjung
orang kaya/berpangkat
mengharapkan diberi
sesuatu.
Ngantuk nemu kethuk.
Ini gambaran orang
malas, tanpa bekerja
dapat rejeki.
Anjabung alus
Menipu dengan cara
halus.
Keplok ora tombok
Orang yang mencela
orang lain dan tidak
membantu.
Ilang jarake, kari jaile
Hilang sudah sifat baik,
yang ada hanya iri dan
dengki.
Tingkah laku orang-
orang dinegeri kacau.
Pada sebuah negeri yang
tatanannya lagi kacau,
diingatkan : Waspada,
ada orang atau
kelompok yang tidak
terpuji perilakunya,
seperti :
Ambondhan tanpo ratu
Tidak menghormati
tatanan/peraturan,
ulahnya mengacau.
Ngalasake negoro..
Negara dianggap hutan,
berbuat seenaknya
sendiri.
Mampang mumpung
Berbuat semaunya
sendiri.
Alesus gumeter
Sengaja menyebarkan
berita yang mengacau.
Sawat ambalang kayu
Dinegeri yang
tatanannya baru sakit,
ada saja peramal yang
senangnya mengeluarkan
ramalan-ramalan, meski
kebanyakan ramalannya
tidak benar.
Setan nggowo ting
Setan yang berkeliaran
membawa lentera,
artinya ada orang yang
berkeliaran kesana
kesini untuk menghasut
dan berbuat jahat.
Caca upa
Berbuat jahat supaya
terjadi permusuhan, lalu
menyediakan racunnya –
Raja wisuna.
Bahni maya pramana
Melakukan kampanye
busuk ( black campaign)
sambil mencerca dan
memaki lawannya.
Arep jamure, emoh
watange
Pemalas, maunya hidup
enak ,tetapi tidak mau
bekerja keras.
Gecul kumpul
Kumpulan para penjahat.
Hadigang
Munculnya para
pemimpin yang merasa
kuat.
Hadigung
Merasa besar dan kuasa.
Hadiguna
Merasa pandai.
Sementara itu , banyak
anak buahnya, pejabat
dibawahnya yang
tindakannya tidak punya
malu :
Rai gedheg.
Mereka suka memeras
kawula yang kebanyakan
juga hidup susah, sampai
kawula tak punya apa-
apa, diibaratkan seperti :
Pitik trondhol dibubuti .-
Ayam yang bulunya
jarang, masih juga
dibubuti bulunya hingga
plonthos, habis semua
bulunya.
JagadKejawen,
Suryo S. Negoro

Budi Pekerti

Budi Pekerti
Secara umum Budi
Pekerti berarti moral
dan kelakuan yang baik
dalam menjalani
kehidupan ini.
Ini adalah tuntunan
moral yang paling
penting untuk orang
Jawa tradisional. Budi
Pekerti adalah induk dari
segala etika ,tatakrama,
tata susila, perilaku baik
dalam pergaulan ,
pekerjaan dan kehidupan
sehari-hari. Pertama-
tama budi pekerti
ditanamkan oleh orang
tua dan keluarga
dirumah, kemudian
disekolah dan tentu saja
oleh masyarakat secara
langsung maupun tidak
langsung.
Pada saat ini dimana
sendi-sendi kehidupan
banyak yang goyah
karena terjadinya erosi
moral,budi pekerti masih
relevan dan perlu
direvitalisasi.
Budi Pekerti yang
mempunyai arti yang
sangat jelas dan
sederhana, yaitu :
Perbuatan( Pekerti) yang
dilandasi atau dilahirkan
olehPikiran yang jernih
dan baik ( Budi).
Dengan definisi yang
teramat gamblang dan
sederhana dan tidak
muluk-muluk, kita
semua dalam menjalani
kehidupan ini semestinya
dengan mudah dan arif
dapat menerima
tuntunan budi pekerti.
Budi pekerti untuk
melakukan hal-hal yang
patut, baik dan
benar.Kalau kita berbudi
pekerti, maka jalan
kehidupan kita paling
tidak tentu selamat,
sehingga kita bisa
berkiprah menuju ke
kesuksesan hidup,
kerukunan antar sesama
dan berada dalam
koridor perilaku yang
baik.
Sebaliknya, kalau kita
melanggar prinsip-prinsip
budi pekerti, maka kita
akan mengalami hal-hal
yang tidak nyaman, dari
yang sifatnya ringan,
seperti tidak disenangi/
dihormati orang lain,
sampai yang berat
seperti : melakukan
pelanggaran hukum
sehingga bisa dipidana.
Penanaman Budi Pekerti
Esensi Budi Pekerti,
secara tradisional mulai
ditanamkan sejak masa
kanak-kanak, baik
dirumah maupun
disekolah, kemudian
berlanjut dalam
kehidupan dimasyarakat.
Dirumah dan keluarga
Sejak masa kecil dalam
bimbingan orang tua,
mulai ditanamkan
pengertian baik dan
benar seperti etika,
tradisi lewat dongeng,
dolanan/permainan
anak-anak yang
merupakan cerminan
hidup bekerjasama dan
berinteraksi dengan
keluarga dan lingkungan.
Berperilaku yang baik
dalam keluarga amat
penting bagi
pertumbuhan sikap anak
selanjutnya. Dari kecil
sudah terbiasa
menghormat orang tua
atau orang yang lebih
tua, misalnya : jalan
sedikit membungkuk jika
berjalan didepan orang
tua dan dengan sopan
mengucap : nuwun sewu
( permisi), nderek
langkung ( perkenankan
lewat sini).
Selain berperilaku halus
dan sopan, juga
berbahasa yang baik
untuk menghormati
sesama, apakah itu
bahasa halus ( kromo)
atau ngoko ( bahasa
biasa). Bahasa Jawa yang
bertingkat bukanlah hal
yang rumit, karena
unggah ungguh basa
( penggunaan bahasa
menurut tingkatnya)
adalah sopan santun
untuk menghormat
orang lain.
Bahasa kromo dan ngoko
Pada dasarnya ada dua
tingkatan dalam bahasa
Jawa,yaitu : Kromo,
bahasa halus dan ngoko,
bahasa biasa. Bahasa
kromo dipakai untuk
menghormat orang tua
atau orang yang perlu
dihormat, sedangkan
ngoko biasanya dipakai
antar teman.
Semua kata yang dipakai
dalam dua tingkat
bahasa tersebut
berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya
mau pergi.
Kromo : Kulo
bade kesah.
Ngoko : Aku
arep lunga.
Dalam percakapan
sehari-hari, orang tua
kepada anak memakai
ngoko, sedang anaknya
menggunakan kromo.
Dalam pergaulan dipakai
pula bahasa campuran
yang memakai kata-kata
dari kromo dan ngoko
dan ini lebih mudah
dipelajari dalam praktek
dan sulit dipelajari
secara teori.
Ora ilok, suatu kearifan
Orang tua zaman dulu
sering bilang : ora
ilok,artinya tidak baik,
untuk melarang
anaknya.Jadi anak tidak
secara langsung dilarang,
apalagi
dimarahi.Ungkapan
tersebut dimaksudkan ,
agar si anak tidak
melakukan perbuatan
yang tidak sopan atau
mengganggu
keharmonisan alam.
Misalnya ungkapan : Ora
ilok ngglungguhi bantal,
mengko wudhunen
(Tidak baik menduduki
bantal , nanti bisulan).
Maksudnya supaya tidak
menduduki bantal,
karena bantal itu alas
kepala. Meludah
sembarang tempat atau
membuang sampah tidak
pada tempatnya, juga
dibilang ora ilok, tidak
baik. Tempo dulu, orang
tua enggan menjelaskan,
tetapi sebenarnya itu
merupakan kearifan.
Lebih baik melarang
dengan arif, dari pada
dengan cara keras.
Tembang yang bermakna
Pada dasarnya,
pendidikan informal
dirumah, dikalangan
keluarga adalah
ditujukan kepada
harapan terbaik bagi
anak asuh. Coba
perhatikan ayah atau ibu
yang meninabobokkan
anak dengan kasih
sayang melantunkan
tembang untuk
menidurkan anak , isinya
penuh permohonan
kepada Sang Pencipta,
seperti tembang : Tak
lelo-lelo ledung, mbesuk
gede pinter sekolahe,
dadi mister, dokter,
insinyur. ( Sayang, nanti
sudah besar pintar
sekolahnya, jadi sarjana
hukum, dokter atau
insinyur).
Atau doa dan
permohonan yang lain :
Mbesuk gede, luhur
bebudhene,jumuring ing
Gusti, angrungkubi
nagari ( Bila sudah
dewasa terpuji budi
pekertinya,
mengagungkan Tuhan
dan berbakti kepada
negara).
Pendidikan tradisional
zaman dulu mengandung
kesabaran, nerimo ing
pandhum, pasrah, ayem
tentrem, tansah eling
marang Pangeran ( selalu
dengan sabar menerima
dan mensyukuri
pemberian Tuhan,
pasrah. Pengertian
pasrah adalah tekun
berusaha dan
menyerahkan keputusan
kepada Tuhan.Hati
tenang tentram, selalu
ingat kepada
Tuhan).Perlu digaris
bawahi bahwa
kepercayaan orang Jawa
tradisional kepada Tuhan
itu sudah mendarah
daging sejak masa kuno,
sehingga anak-anak Jawa
sejak kecil sudah sering
mendengar kata-kata
orang tua : Kabeh sing
neng alam donya iku ana
margo kersaning Gusti.
( Semua yang ada didunia
ini ada karena kehendak
Tuhan).Sehingga bagi
orang Jawa tradisional,
apapun yang terjadi,
akan selalu pasrah dan
mengagungkan Gusti/
Tuhan. Itu sudah menjadi
watak bawaan yang
mendarah daging.
Biasanya ketika anak
mulai berumur lima
tahunan, secara naluri
mulai diterapkan ajaran
unggah-ungguh, sopan
santun, etika,
menghormati orang tua
dan orang lain.
Inkulturisasi, penanaman
etika ini sangat penting
karena menjadi dasar
supaya si anak hingga
dewasa dapat membawa
diri dan diterima dalam
pergaulan dimasyarakat,
mampu bersosialisasi dan
punya budaya malu.
Punya sikap
mendahulukan
kepentingan orang lain,
peka dan peduli kepada
sekeliling dan
lingkungan. Punya
kebiasaan hidup rukun
dan damai, penuh kasih
sayang dan hormat
dilingkungan keluarga
dan masyarakat.
Penanaman sikap sejak
dini ini penting karena
akan merasuk dalam
rasa, sehingga
kepekaannya tidak
mudah hilang.
Peduli Lingkungan
Pendidikan yang
mengarah kepada peduli
dan kasih terhadap
lingkungan dan alam,
juga sudah dimulai sejak
usia belia.Anak-anak
diberi pengertian untuk
tidak bersikap
sewenang-wenang
kepada binatang dan
tanaman dan juga
menjaga kebersihan
alam, tidak merusak
alam.
Anak kecil yang
dirumahnya punya
binatang peliharaan
seperti anjing, kucing,
burung, selalu diberitahu
oleh orang tuanya untuk
merawat nya dengan
baik, memberi makan
yang teratur, dijaga
kebersihannya,
kandangnya juga bersih
dan tidak boleh
diperlakukan dengan
sewenang-wenang dan
justru harus dilindungi
dan dikasihi.
Tanaman dan pepohonan
juga harus dirawat
dengan baik, disiram
setiap sore, kadang-
kadang diberi pupuk,
dijaga supaya tumbuh
subur dan sehat dan
cantik
penampilannya ,sehingga
enak dipandang.
Tanaman yang dirawat
akan membalas kebaikan
kita, daunnya, ,
bunganya, buahnya,
kayunya, akarnya, bisa
memberi faedah yang
berguna.
Bumi tempat kita
berpijak, juga harus
dilindungi, diurus yang
baik, jangan asal saja
menggali-gali
tanah ,kalau memang
tidak ada tujuan yang
bermanfaat.Sumber air
juga harus dijaga, tidak
boleh dikotori.
Prinsipnya, kita harus
dengan sadar dan sebaik-
baiknya merawat,
menggunakan dan
mensyukuri semua
pemberian alam dan
Sang Pencipta.
Pendidikan formal
Selain pendidikan non-
formal yang berkembang
dan berpengaruh positif,
pendidikan formal tentu
saja mempunyai peran
sangat penting.Anak
dididik supaya cerdas
dan punya budi pekerti.
Sejak ditaman bermain/
Play group, TK,SD, anak
diperkenankan dan
dibiasakan bersosialisasi,
ditanamkan etika, sopan
santun, kebersihan, rasa
kebersamaan, rasa
kebersamaan dialam
sebagai satu kesatuan
kosmos, ditanamkan rasa
solidaritas dan kasih
sayang demi keselarasan,
keseimbangan dan
perdamaian.
Tentu juga diajarkan
nilai-nilai luhur yang
terdapat dalam tradisi
dan adat istiadat.
Dimasa penjajahan dulu,
sekolah-sekolah pribumi
seperti Taman Siswa,
menanamkan pendidikan
yang penuh dengan
semangat juang dan
nasionalisme, persatuan
dan kesatuan dalam
melawan penjajah.
Etika Pergaulan
Sebagai bangsa yang
berbudaya, sebaiknya
semua pihak
menampilkan sikap yang
santun dalam pergaulan,
membuat orang lain
senang, dihargai. Orang
itu senang bila dihargai,
disapa dengan kata-kata
yang baik, termasuk
wong cilik, orang
ekonomi lemah.Wong
cilik akan santun kepada
orang yang menghargai
mereka. Orang santun,
meski derajatnya tinggi,
tidak sombong, ini orang
yang berbudaya.Orang
yang berperilaku baik,
berbahasa baik, berbudi
baik, selain dihargai
orang lain, secara pribadi
juga untung, yaitu akan
mengalami peningkatan
taraf kejiwaannya,
mengalami kemajuan
batiniah.
Pelajaran dari cerita
wayang
Cerita yang bersumber
dari pewayangan juga
penting untuk
pendidikan budi pekerti
secara umum.
Bagi orang Jawa
tradisional, apa yang
dikisahkan dalam
wayang adalah
merupakan cermin dari
kehidupan, oleh karena
itu wayang sangat
populer di Jawa sampai
saat ini.
Pelajaran yang bisa
ditarik dari pewayangan
adalah , antara lain :
1. Didunia ini ada baik dan
jahat, pada akhirnya
yang baik yang menang,
tetapi setiap saat yang
jahat akan berusaha
untuk menggoda lagi.
2. Ikutilah contoh dari sikap
hidupPandawa, lima
satria putra Pandu yaitu
Yudistira, Bima, Arjuna,
Nakula, Sadewa dan
satria-satria yang lain
yang mempunyai watak
luhur, jujur, sopan.
Mereka berjuang demi
kebenaran, untuk
kesejahteraaan rakyat
dan negara. Mereka
dengan tekun dan ikhlas
mendalami spiritualitas,
kebatinan. Mereka
menggunakan
kemampuan,
kesaktiannya untuk
tujuan yang mulia. Satria
itu orang yang berbudi
pekerti, berwatak luhur
dan bertanggung jawab.
Jangan mencontoh sikap
paraKorawa,seratus
orang putra
Destarata,yaitu
Duryudana dan adik-
adiknya beserta kroni-
kroninya. Mereka itu
tidak jujur, serakah
mencari kekayaan
materi dan kekuasaan,
sikapnya kasar, tidak
sopan, culas.Mereka
digambarkan sebagai
raksasa. Raksasa dalam
bahasa Jawa adalah Buto
artinya buta, tidak bisa
membedakan yang baik
dan yang jahat, yang
salah dan yang benar.
4. Dari epoch Ramayana,
Prabu Rama, Anoman
dan anah buahnya punya
watak satria luhur,
sebaliknya Rahwana,
Sarpakenaka adalah
raksasa-raksasa yang
rakus dan keji, tanpa
rasa kemanusiaan.
5. Penghuni Alam Raya ini
tidak hanya manusia,
hewan dan mahluk yang
kasat mata, tetapi juga
ada mahluk-mahluk lain
yang biasanya disebut
mahluk halus, ada yang
baik dan ada yang jahat
wataknya.
6. Ada alam Kadewatan
yang dihuni dewa dewi
yaitu di Kahyangan.
Penguasa Jagat Raya
adalah Sang Hyang
Wenang yang dalam
pelaksanaannya memberi
wewenang kepada
Batara Guru.
7. Dalam hidupnya manusia
selalu mensyukuri berkah
dan anugerah Tuhan,
selalu berdoa dan
mengagungkan Tuhan,
Sang Pencipta.Garis
kehidupan manusia
sesuai ketentuan yang
diketahui dan diizinkan
Tuhan.Titah bisa
berkomunikasi dengan
Sang Penguasa Jagat
Raya, Tuhan melalui
perantaraan dewa dewi
ataupun secara langsung.
Ini tentu merupakan
anugerah Gusti kepada
titahnya yang terpilih,
tidak sembarang
orang.Pemberitahuan
Ilahi juga bisa diterima
melalui wahyu secara
langsung ataupun lewat
mimpi.Dalam cerita
wayang, seseorang bisa
dikontak oleh utusan
Kahyangan setelah
bertapa ditempat yang
sepi untuk beberapa saat
(.Dewa-dewi dalam
pengertian lain bisa
disebut Malaikat atau
Angels).
8. Manusia yang sudah
diberi kesempatan untuk
menjalani kehidupan
dibumi ini oleh Sang
Pencipta, tidak layak
kalau menyia-nyiakan
hidupnya. Dia harus
menjadi manusia yang
berbudi pekerti,
melaksanakan darma
anak manusia untuk
memayu hayuning
bawana . ( Melestarikan
bumi dan mempercantik
kehidupan
dibumi.)
.
Legenda –legenda tanah
Jawa menggambarkan :
1. Adanya raja-raja dan
penguasa yang adil dan
tidak adil;ada yang baik,
bijak, tetapi ada juga
yang bengis dan kejam.’
2. Kejujuran dan kelicikan.
3. Pahlawan dan
pengkhianat
4. Negeri aman, adil
makmur dan negeri yang
serba semrawut dan
kacau.
5. Kekuasaan untuk rakyat
dan penyalahgunaan
kekuasaan.
6. Masyarakat adil makmur
tata tentram kerta
raharja adalah suasana
kehidupan masyarakat
yang didambakan orang
Jawa.
Tatakrama dan Tata
Susila
Tatakrama dan Tata
Susila juga tak terlepas
dari budi pekerti.
Berlaku sopan,
bertatakrama yang
meliputi sikap badan,
cara duduk, berbicara
dll. Misalnya dengan
orang tua berbahasa
halus/kromo, dengan
teman berbahasa ngoko.
Bahasa Jawa memang
unik, dengan mudah bisa
menunjukkan sifat
tatakrama seseorang.
Menghormati orang tua,
guru, pinisepuh adalah
wajib, tetapi tidak
berarti yang muda tidak
dihormati. Hormat
kepada orang lain itu
satu keharusan.
Itu kesemuanya
termasuk dalam Tata
Susila- etika moral, yang
juga meliputi :
Jujur, tidak menipu,
welas asih kepada
sesama. Berkelakuan
baik tidak melakukan Mo
Limo, yaitu : Main/
berjudi; madon/ main
perempuan atau
selingkuh;mabuk karena
minuman keras;madat
menggunakan narkoba
dan maling .Tentu saja
tindakan jahat yang lain
seperti membunuh,
menista,
mengakali,memeras,
menyuap, melanggar
hukum dan berbuat
kejam ,harus tidak
dilakukan.
2. Berperilaku baik dengan
menghindari perbuatan
salah, supaya nama baik
tetap terjaga dan supaya
tidak kena malu.Terkena
malu bagi orang Jawa
tradisional adalah
kehilangan
kehormatan.Ada pepatah
Jawa menyatakan :
Kehilangan semua harta
milik itu tidak
kehilangan apapun;
kehilangan nyawa
artinya kehilangan
separoh hidup kita;
tetapi kalau kehilangan
kehormatan artinya
kehilangan semuanya.
3. Memelihara kerukunan,
bebas dari konflik
diantara keluarga,
tetangga, kampung,
desa, selanjutnya
ditingkat negara dan
dunia, dimana hubungan
harmonis antar manusia
teramat penting.
Kerusakan dan
kekacauan yang timbul
didunia ini, yang paling
besar adalah
dikarenakan oleh sikap
manusia’Ingatlah
pepatah : Rukun agawe
santoso artinya : Rukun
membuat kita sehat
kuat.
4. Bersikap sabar, nrimo
artinya menerima
dengan ikhlas dan sadar
jalan kehidupan kita dan
tidak perlu iri kepada
sukses orang lain Ingin
hidup sukses harus
berusaha dengan keras
dan rajin dan mohon
restu Tuhan, hasilnya
terserah Tuhan.
5. Tidak bersikap egois
yang hanya
mementingkan diri
sendiri. Ada petuah : Sepi
ing pamrih, rame ing
gawe.artinya bertindak
tanpa pamrih dan selalu
siap bekerja demi
kepentingan masyarakat
dan kesejahteraan
umat.Sikap yang
demikian ,mudah
menimbulkan tindakan
ber-gotong royong, baik
dalam lingkungan kecil
maupun besar.
6. Gotong Royong adalah
kerjasama saling
membantu dan hasilnya
sama-sama dinikmati. Ini
bisa berlaku diskop kecil
seperti antar tetangga
kampung yang
merupakan kebiasaan
yang sudah berjalan
sejak masa kuno. Yang
digotong royongkan
antara lain : sama-sama
membersihkan jalan
desa, memperbaiki pra
sarana seperti jalan
desa, saluran air, balai
desa dsb.Ada juga yang
bergotong royong ramai-
ramai membangun
rumah seorang warga dll.
Jadi pada intinya gotong
royong adalah kerjasama
antar beberapa pihak
yang menghasilkan nilai
lebih dipelbagai bidang
yang dikerjakan bersama
tersebut. Dasar gotong
royong adalah sukarela
dan untuk kepentingan
bersama yang meliputi
bidang-bidang
perawatan,
pembangunan, produksi
dll.Tiap peserta akan
menangani bidang
pekerjaan yang
merupakan
kemahirannya dan itu
akan bersinerji dengan
ketrampilan peserta lain
dan “proyek” akan
berjalan
lancar.Berdasarkan
pengalaman yang sukses
dari gotong royong
lingkup kecil, gotong
royong bisa dipraktekkan
berupa sinerji yang
berskala nasional,
regional ,bahkan
internasional.
Kembali ke Budi Pekerti
Pada saat keprihatinan
melanda kehidupan
dinegeri tercinta ini dan
itu sebab pokoknya
adalah kemerosotan
moral dan hukum yang
sulit ditegakkan ,
kebenaran diplintir , rasa
malu hilang entah
kemana, mana yang baik
mana yang buruk
dikaburkan, tata susila
tak diperhitungkan.Lalu
dimana pula kejujuran?
Yang lagi ngetrend pada
saat ini adalah janji-janji,
terutama janjinya para
politikus. Ini katanya
zaman krisis multi
dimensi, kalau orang
dulu bilang :Ini zaman
edan !
Dalam keadaan sulit
seperti apapun, tentu
ada jalan keluarnya,
tidak semua orang
bersifat jelek, tidak
semua pemimpin lupa
diri, ada masih anak
bangsa yang berkwalitas,
jujur, pandai, trampil,
trengginas,berani hidup
sederhana, dalam
perilaku dan tindakannya
didasari nurani dan
berkah Tuhan Yang Maha
Pengasih dan
Penyayang . Inilah anak
bangsa, satria bangsa
yang mumpuni dan akan
mrantasi gawe,
mengentaskan bangsa
dan negara ini dari
keterpurukan dan
membawa kekehidupan
yang lebih baik ,
sejahtera, aman, adil dan
makmur.
Kalau kita merenung
dengan hening, berbicara
dengan nurani, tiada
sedikit keraguan
bahwasanya Budi Pekerti
yang sarat dengan ajaran
luhur moral dan etika
dan kepasrahan kepada
Tuhan, merupakan resep
mujarab supaya bangsa
dan negara terlepas dari
segala keruwetan yang
dihadapi ( Ngudari ruwet
rentenge bangsa lan
negara ).
Krisis yang dihadapi akan
ditanggulangi dengan
baik bila kita semua,
terutama mereka yang
menjadi pemimpin,
priyayi, birokrat, dengan
sadar dan mantap,
melaksanakan semua
tindakan dengan dasar
budi pekerti.
Budi Pekerti yang
merupakan kearifan
lokal, pada dasarnya
mengandung nilai-nilai
universal.
Budi Pekerti akan
membangkitkan
kepribadian yang
berkwalitas : tanggap
( peka), tatag ( tahan
uji), dan tanggon ( dapat
diandalkan).
JagadKejawen,
Suryo S. Negoro